AKSESPUBLIK.ID, BONE — Sebagai upaya mendongkrak nilai tambah komoditas pertanian lokal, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) Posko Desa Hulo menggelar sosialisasi dan pelatihan pembuatan tepung MOCAF (Modified Cassava Flour).
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (14/07/2026) ini menyasar masyarakat Desa Hulo, khususnya kelompok tani dan ibu rumah tangga di Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone. Program kerja ini diinisiasi untuk membekali warga dengan keterampilan mengolah singkong menjadi produk turunan bernilai ekonomi tinggi yang potensial menjadi peluang usaha baru.
Edukasi dan pelatihan ini dipandu langsung oleh Ernawati, mahasiswa Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian Unhas. Dalam pemaparannya, Ernawati mengupas tuntas keunggulan tepung MOCAF dibandingkan dengan tepung singkong konvensional, serta potensinya yang besar sebagai bahan pangan alternatif pengganti terigu.
“Melalui proses modifikasi ini, tepung yang dihasilkan memiliki karakteristik yang lebih baik dan lebih fleksibel untuk diolah menjadi berbagai produk pangan. Alat dan bahan yang dibutuhkan pun cukup terjangkau, seperti starter Bimo-CF, alat pengiris, wadah fermentasi, hingga alat penepung standar,” jelas Ernawati.
Antusiasme warga terlihat saat memasuki sesi praktik langsung. Didampingi oleh seluruh mahasiswa Posko Desa Hulo, para peserta diajak mempraktikkan setiap tahapan produksi secara runut. Mulai dari pengupasan dan pengirisan singkong secara higienis, proses fermentasi menggunakan starter khusus, pencucian, penjemuran, hingga tahap penepungan dan pengayakan untuk menghasilkan tekstur tepung yang halus dan berkualitas.
Koordinator Posko KKN-T Unhas Desa Hulo berharap, lewat pelatihan mandiri ini, paradigma masyarakat dalam memanfaatkan hasil bumi dapat bergeser dari sekadar menjual singkong segar menjadi produsen produk olahan siap pakai.
Dengan hadirnya program ini, hilirisasi pangan berbasis sumber daya lokal di Desa Hulo diharapkan tidak hanya mampu memperkuat ketahanan pangan tingkat desa, tetapi juga menjadi stimulus bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat setempat.(*)












